Dua Belas Tahun Yayasan Jejak Pulang, P2HB Tegaskan Komitmen Pengelolaan KHDTK Samboja Berkelanjutan
Jakarta, 10 Februari 2026 - Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) menegaskan komitmennya dalam pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja yang berkelanjutan, berfungsi secara ekosistem, serta mendukung kesejahteraan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Kepala P2HB, Gun Gun Hidayat, PhD, dalam sambutannya pada Perayaan Dua Belas Tahun Kiprah Yayasan Jejak Pulang dalam Konservasi Orangutan di Indonesia, Selasa (10/2), bertempat di Puri Ratna, Grand Sahid Jaya, Jakarta, yang diselenggarakan secara hybrid (luring dan daring).
Kegiatan ini diselenggarakan setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Yayasan Jejak Pulang (YJP) sebagai bentuk penguatan kerja sama jangka panjang dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia. Acara ini, dihadiri unsur pemerintah pusat dan daerah, lembaga konservasi, akademisi, mitra donor, serta media nasional.
Dalam sambutannya, Kepala P2HB menyampaikan apresiasi atas kontribusi Yayasan Jejak Pulang yang secara konsisten mendampingi upaya konservasi orangutan, khususnya di Kalimantan Timur. Menurutnya, kiprah YJP merupakan wujud partisipasi nyata masyarakat sipil dalam mendukung pemerintah menghadapi tantangan konservasi satwa liar dilindungi.
“KHDTK Samboja memiliki karakteristik hutan hujan tropis yang masih alami dan sangat sesuai untuk kegiatan konservasi orangutan. Upaya rehabilitasi dan pendirian Sekolah Hutan yang digagas Yayasan Jejak Pulang sejak 2014 telah memberikan kontribusi nyata bagi pelepasliaran orangutan di Kalimantan Timur,” ujar Gun Gun Hidayat.
P2HB saat ini mengelola 14 KHDTK di seluruh Indonesia, termasuk KHDTK Samboja. Dalam pengelolaannya, P2HB menekankan pentingnya kemitraan strategis yang berkelanjutan. Penandatanganan MoU antara Kementerian Kehutanan dan Yayasan Jejak Pulang dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat perlindungan orangutan sekaligus memastikan kesinambungan rehabilitasi dan pengelolaan habitat.
Gun Gun juga menekankan perlunya pertukaran informasi antara Yayasan Jejak Pulang, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, dan P2HB sebagai instansi teknis pengelola pengetahuan konservasi. Untuk mendukung hal tersebut, P2HB telah mengembangkan platform Technical Knowledge Management Hub (TKMH) yang berfungsi sebagai jembatan berbagi informasi, data, dan praktik baik di bidang kehutanan dan konservasi.
Lebih lanjut disampaikan, KHDTK Samboja memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah. Letaknya yang berada di kawasan depan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta dilalui jalur lalu lintas utama menjadikannya sarana edukasi konservasi yang efektif bagi masyarakat. Pemasangan papan informasi mengenai keberhasilan rehabilitasi orangutan dinilai mampu meningkatkan kesadaran publik tentang peran penting orangutan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan Kalimantan Timur.
Sekolah Hutan di KHDTK Samboja yang berdiri di atas kawasan seluas sekitar 130 hektare disebut sebagai aset penting dalam mendukung rehabilitasi orangutan. P2HB membuka ruang agar fasilitas tersebut dimanfaatkan sebagai wahana pertukaran pengetahuan antarlembaga konservasi dan mitra, sekaligus memperkuat pengembangan ilmu konservasi orangutan di Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Wanda Kuswanda, memaparkan sejarah orangutan, mulai dari penemuan fosil, distribusi, hingga spesies yang telah punah. Ia menjelaskan bahwa saat ini hanya tersisa spesies modern di Malaysia dan Indonesia, yakni Pongo pygmaeus. Di Indonesia, orangutan terbagi ke dalam tiga populasi utama, yaitu Kalimantan dengan sekitar 57.350 individu, Sumatra sekitar 14.290 individu, serta Tapanuli yang tersisa sekitar 577–760 individu.
Dr. Wanda juga menyoroti karakteristik bioekologi orangutan yang sangat bergantung pada hutan tropis dengan sumber pakan melimpah, memiliki tingkat kecerdasan tinggi, serta kemiripan genetik hingga 97 persen dengan manusia. Namun demikian, konservasi orangutan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius, antara lain kehilangan hutan dan fragmentasi habitat, konflik manusia–orangutan, perburuan dan perdagangan ilegal, perubahan iklim dan bencana ekologis, keterbatasan pendanaan, serta minimnya peneliti nasional.
Dalam rangkaian acara tersebut, juga digelar kuliah umum bertajuk “Konservasi Orangutan dan Tantangannya di Indonesia”, dialog multipihak, serta refleksi bersama para pemangku kepentingan untuk merumuskan arah kebijakan konservasi orangutan ke depan. Diskusi menekankan pentingnya perlindungan total habitat inti dan kritis, pembangunan konektivitas meta populasi, peningkatan efektivitas mitigasi konflik, serta penguatan penegakan hukum dan tata kelola.
Sejalan dengan itu, Kepala P2HB memaparkan perkembangan kerja sama antara P2HB dan Yayasan Jejak Pulang sejak 2014 hingga 2026, mulai dari inisiasi awal, penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS), evaluasi, hingga proses perpanjangan kerja sama yang saat ini masih berjalan. Keberadaan YJP di KHDTK Samboja dinilai mendukung tugas dan fungsi P2HB, khususnya dalam pengelolaan pengetahuan melalui TKMH Kehutanan serta percepatan perbaikan ekosistem hutan melalui program rehabilitasi dan in house training (IHT).
Menutup sambutannya, Gun Gun Hidayat menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Yayasan Jejak Pulang dan seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam konservasi orangutan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil ini dapat terus memberikan manfaat nyata bagi kelestarian orangutan, perbaikan ekosistem hutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar KHDTK Samboja.
Penanggung Jawab Berita :
Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan
Editor :
Pratiara Lamin, S.Hut.M.Si – Kepala Bidang Fasilitas Penerapan Pengembangan Hutan Berkelanjutan
Kontributor berita :
Tim Humas Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan