Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit Lakukan Eksplorasi Bambu di KHDTK Haurbentes

SHARE

Bogor, 10 April 2026 – — Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Haurbentes – P2HB menerima kunjungan dari Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit pada 6 April 2026 dalam rangka kegiatan eksplorasi dan pengambilan bibit bambu. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian eksplorasi bambu yang dilakukan yayasan tersebut di berbagai wilayah Indonesia.

Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit dikenal sebagai lembaga yang berfokus pada pengembangan dan pelestarian bambu. Kunjungan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Elizabeth, pakar bambu sekaligus mantan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam kegiatan tersebut, yayasan mengambil 16 jenis bibit bambu yang tersedia di kawasan KHDTK Haurbentes, antara lain ampel hijau, ampel kuning, Bambusa, balku, asperthay, gauduri, andong, petung, pulgaris pagar kuning, oldami, Laetiporus, bambu tutul, aterlegi tela, lemang hijau, serta Guadua amplexifolia. Bibit tersebut berasal dari tanaman yang telah ditanam sejak 1970-an sehingga memiliki ketersediaan yang melimpah.

Proses pengambilan dilakukan dari bagian bonggol (akar) dan batang dengan diameter lebih dari 5 cm serta panjang rata-rata lebih dari 15 cm, untuk memastikan bibit dapat tumbuh optimal saat ditanam kembali di lokasi lain. KHDTK Haurbentes menjadi lokasi kunjungan pertama dalam rangkaian eksplorasi nasional yayasan tersebut.

Pengambilan bibit dilakukan di area patok 38, yang merupakan batas luar kawasan sekaligus area khusus koleksi bambu. Kawasan ini memiliki sekitar 42 jenis bambu, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk dari China, Bangladesh, Taiwan, Afrika Selatan, India, Pakistan, Thailand, Vietnam, Myanmar, Jepang, dan Malaysia. Koleksi bambu dalam negeri juga tersebar dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga Maluku.

Beberapa jenis bambu yang terdapat di KHDTK Haurbentes di antaranya bambu pagar China hijau, bambu duri (ori), bambu balku cavensis, bambu putih, bambu tutul, bambu pagar China kuning, bambu ampel kuning, bambu ampel hijau, bambu petung hitam, bambu petung Thai, bambu hamiltonii, bambu Taiwan, bambu apus (tali), bambu ater, bambu manggong, bambu lengka, bambu andong, bambu mayan, bambu cendani, bambu lemang hijau, bambu batu, bambu siam, dan bambu cikeutreuk.

Kawasan ini terbuka untuk berbagai kegiatan kunjungan, baik penelitian, pengembangan, maupun tindak lanjut di bidang kehutanan dan hasil hutan bukan kayu. Keterbukaan ini sejalan dengan amanat Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan melalui Surat Keputusan Nomor 10 Tahun 2026 tentang Penanggung Jawab Pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan Hutan Penelitian (HP) di lingkup Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Tahun 2026.

Selain plot bambu yang terdapat di petak 38, kawasan tersebut juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi Areal Sumber Daya Genetik (ASDG) Bambu untuk mendukung konservasi bambu secara eks situ. Pengembangan ASDG ini menunjukkan peran KHDTK Haurbentes sebagai lokasi yang telah mengelola konservasi tumbuhan sesuai dengan SNI 8915 tentang ASDG. Pengembangan ASDG di setiap KHDTK yang dikelola P2HB juga digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi eselon I lain, yaitu Ditjen KSDAE dan Ditjen PDASRH.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kerja sama dengan lembaga penelitian dan yayasan dapat semakin memperkuat upaya pelestarian serta pemanfaatan bambu secara berkelanjutan di Indonesia.

***

Penanggung Jawab Berita :

Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan

Editor :

Pratiara Lamin, S.Hut.M.Si – Kepala Bidang Fasilitas Penerapan Pengembangan Hutan Berkelanjutan

Kontributor berita :

Tim Humas Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan