Rapat Strategis Bahas Restorasi Savana Sumba, Brin dan P2HB Siapkan Model Inovatif di KHDTK Hambala

SHARE

Bogor, 8 Agustus 2026 – — Upaya penyelamatan ekosistem savana di Pulau Sumba memasuki babak baru. Rapat koordinasi antara Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) dan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk tim PRE BRIN-KSL Kupang, digelar untuk membahas rencana proyek Restorasi Berbasis Komunitas (RBC) di kawasan KHDTK Hambala.

DPertemuan ini menjadi langkah awal dalam mematangkan konsep penelitian jangka panjang bertajuk Kajian Model Restorasi Inklusi Ekosistem Savana Pulau Sumba, yang diusulkan oleh peneliti BRIN, Dr. Gerson N. Njurumana. Proyek ini direncanakan berlangsung selama empat tahun, mulai 2027 hingga 2030.

Fokus pada Krisis Ekosistem Savana

Dalam pemaparannya, Dr. Gerson menekankan bahwa ekosistem savana di Pulau Sumba merupakan lanskap dominan yang memiliki peran vital, baik secara ekologis maupun sosial-ekonomi. Namun, kondisi savana saat ini menghadapi tekanan serius akibat praktik pembakaran berulang, penggembalaan berlebih, serta perubahan penggunaan lahan.

“Degradasi ini tidak hanya menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya dalam forum tersebut.

Dua Model Kunci: Ekologi dan Sosial

Rencana penelitian ini akan menghasilkan dua keluaran utama, yaitu: 1. Model rekayasa restorasi ekosistem savana secara alamiah 2. Model rekayasa sosial berbasis kearifan lokal Kedua pendekatan ini akan dijalankan melalui empat strategi utama, termasuk peningkatan daya dukung ekosistem, percepatan regenerasi alami, integrasi situs budaya dalam restorasi, serta intervensi teknis restorasi (R+).

Peran KHDTK Hambala sebagai Laboratorium Alam

Kawasan KHDTK Hambala dinilai strategis sebagai lokasi penelitian karena merepresentasikan kondisi savana semi-arid khas Nusa Tenggara Timur. Selain itu, kawasan ini berada di bawah pengelolaan P2HB, sehingga memungkinkan integrasi antara riset dan implementasi kebijakan kehutanan.

Penguatan fungsi kawasan juga akan dilakukan melalui penanaman jenis-jenis lokal, pembangunan green belt untuk penyediaan kayu bakar masyarakat, serta peningkatan ketahanan terhadap serangan hama seperti belalang yang kerap mengganggu lahan pertanian sekitar.

Dukung Agenda Nasional dan Global

Kegiatan ini dinilai selaras dengan arah Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, khususnya dalam mendukung prioritas nasional terkait pembangunan berkelanjutan dan penguatan ketahanan lingkungan.

Selain itu, proyek ini juga berkontribusi pada target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-15 tentang perlindungan ekosistem daratan, serta mendukung agenda global Global Forest Goals 2030.

Tantangan dan Harapan

Meski ambisius, proyek ini menghadapi sejumlah tantangan, seperti lemahnya kapasitas kelembagaan lokal, konflik pemanfaatan lahan, serta minimnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan praktik tradisional.

Namun, melalui kolaborasi lintas lembaga dan pendekatan berbasis komunitas, para pihak optimistis bahwa model restorasi yang dihasilkan dapat menjadi rujukan nasional, bahkan internasional, dalam pengelolaan savana berkelanjutan.

Rapat ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi riset dan implementasi di lapangan, demi mewujudkan pemulihan ekosistem savana yang inklusif dan berkelanjutan di Pulau Sumba.

***

Penanggung Jawab Berita :

Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan

Editor :

Pratiara Lamin, S.Hut.M.Si – Kepala Bidang Fasilitas Penerapan Pengembangan Hutan Berkelanjutan

Kontributor berita :

Tim Humas Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan