Perkuat Restorasi Mangrove dan Karbon Hutan, Kementerian Kehutanan Jajaki Kerja Sama Strategis dengan AFoCO dan KT&G
Jakarta – Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) Kementerian Kehutanan mendukung penguatan kerja sama strategis antara Kementerian Kehutanan dengan Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) dan Korea Tomorrow & Global (KT&G) yang dibahas dalam pertemuan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Pertemuan yang dipimpin oleh Direktur Jenderal PDASRH, Kementerian Kehutanan Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum, tersebut menjadi momentum penting untuk memperdalam kolaborasi di bidang restorasi mangrove, karbon hutan, dan nature-based solutions (NbS). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Direktur Eksekutif AFoCO Sunpil Jin beserta jajaran, serta Senior Manager KT&G dan pimpinan KT&G Indonesia.
Direktur Jenderal PDASRH dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia telah menjadi anggota AFoCO sejak 8 Agustus 2019 dan secara konsisten mendukung pendekatan kerja sama yang berorientasi pada aksi nyata dan berbasis konsensus. Menurutnya, AFoCO merupakan platform strategis untuk mendorong kolaborasi konkret, mulai dari penguatan kapasitas, pertukaran teknis, hingga implementasi proyek di tingkat tapak.
Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas diterimanya proposal proyek Pemulihan Ekosistem Taxus sumatrana di Taman Nasional Kerinci Seblat oleh Sekretariat AFoCO. Selain itu, dukungan KT&G melalui AFoCO terhadap proyek rehabilitasi mangrove di Pasuruan dinilai sebagai contoh sinergi positif antara pemerintah dan sektor swasta dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.
Dalam agenda pembahasan restorasi mangrove, disampaikan bahwa Indonesia mengelola sekitar 23 persen mangrove dunia dengan potensi simpanan karbon yang signifikan. Sepanjang 2021–2024, Indonesia telah merehabilitasi lebih dari 84.000 hektare mangrove dan menetapkan lebih dari 2.000 hektare kawasan preservasi. Upaya tersebut diperkuat pada 2025 melalui penanaman lebih dari 6,2 juta bibit mangrove.
Terkait proyek “Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Pendekatan Mitigasi dan Adaptasi Bencana” yang didukung KT&G, Kementerian Kehutanan bersama AFoCO menyampaikan bahwa proses penyusunan Project Implementation Agreement (PIA) telah berada pada tahap akhir. Naskah perjanjian tersebut telah disepakati secara substantif, melalui penelaahan internal, serta memperoleh persetujuan dari Kementerian Luar Negeri.
Pada agenda penjajakan kerja sama karbon hutan dan NbS, Kementerian Kehutanan menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi sektor kehutanan sebagai bagian dari kontribusi terhadap Paris Agreement. Salah satu peluang yang dibahas adalah pengembangan kemitraan percontohan “Kemitraan Karbon Hutan dan Solusi Berbasis Alam AFoCO–Indonesia” untuk mendukung rehabilitasi sekitar 12 juta hektare lahan terdegradasi.
Dalam kesempatan yang sama, Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan selaku Indonesia Country Representative untuk AFoCO juga menyampaikan pembaruan terkait peluang pengembangan kampus satelit AFoCO Regional Education and Training Centre (RETC) di Indonesia. Selain itu, Indonesia mengusulkan agar World Mangrove Centre (WMC) dapat ditampilkan dalam Sidang Majelis AFoCO sebagai wadah berbagi praktik terbaik dan memperluas kolaborasi regional.
Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Gun Gun Hidayat, Ph.D., menilai seluruh agenda kerja sama yang dibahas tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin regional dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Ia menyampaikan optimisme bahwa kolaborasi dengan AFoCO dan KT&G akan menghasilkan dampak nyata, tidak hanya dalam memperkuat ketahanan ekosistem dan mendukung penurunan emisi, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
***
Penanggung Jawab Berita :
Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan
Editor :
Ayun Windyoningrum, S.Hut., M.Sc – Analis Kebijakan Ahli MudaKontributor berita :
Tim Humas Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan