Pemetaan Partisipatif di KHDTK Carita Jadi Fondasi Rehabilitasi Hutan dan Penguatan Ekonomi Warga
Pandeglang, Banten — Upaya pemulihan kawasan hutan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di KHDTK Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, terus digencarkan melalui kegiatan pemetaan partisipatif lahan garapan dan lahan dengan tutupan rendah. Kegiatan yang berlangsung pada 9–15 Februari 2026 ini menjadi langkah awal dalam perencanaan penanaman berbasis data lapangan, sejalan dengan program FOLU Net Sink 2030.
Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan dan merupakan bagian dari skema Result-Based Contribution (RBC) Norway Contribution tahap 2 & 3, yang bertujuan memperbaiki ekosistem hutan yang mengalami degradasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. KHDTK Carita selama ini menghadapi tantangan serius, antara lain menurunnya tutupan hutan, tingginya tekanan aktivitas budidaya, serta kebutuhan ekonomi warga. Oleh karena itu, pendekatan program tidak hanya fokus pada rehabilitasi hutan, tetapi juga penguatan sistem agroforestri dan kelembagaan petani hutan.
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi pada 10–11 Februari 2026 yang melibatkan petani dari Desa Sukarame, Sukajadi, dan Sindanglaut, serta perwakilan pemerintah desa dan pengelola kawasan. Dari proses ini terbentuk tiga Kelompok Tani Hutan (KTH), yaitu KTH Pasir Angin dengan 25 anggota, KTH Gorowong dengan 13 anggota, dan KTH Pematang Manggu dengan 5 anggota. Kelompok ini menjadi fondasi pengelolaan kawasan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pemetaan lapangan dilakukan pada 11–14 Februari 2026 di Petak 65, 67, 68, dan 70 KHDTK Carita. Tim melibatkan tokoh kunci dari masing-masing KTH untuk mengidentifikasi batas lahan garapan, potensi lokasi penanaman, dan lahan yang tutupannya rendah. Hingga akhir kegiatan, sebanyak 17 lahan garapan berhasil dipetakan, dengan rincian enam lahan di Pasir Angin, empat lahan di Gorowong, empat lahan di Gunung Batok, serta tiga lahan dan dua titik tambahan di Pematang Manggu. Selain itu, lebih dari 800 hektar hutan berpotensi rendah tutupan teridentifikasi sebagai prioritas rehabilitasi. Lahan-lahan ini didominasi oleh tanaman campuran seperti durian, cengkeh, manggis, jengkol, dan melinjo, mencerminkan praktik agroforestri lokal.
Analisis vegetasi menunjukkan perbedaan karakteristik ekologi berdasarkan tingkat tutupan. Tutupan terbuka cenderung didominasi oleh jenis tertentu dengan keanekaragaman rendah, menandakan ekosistem belum stabil. Tutupan sedang menunjukkan variasi jenis lebih baik pada tingkat semai, meski masih terjadi dominasi pada strata tertentu, sedangkan tutupan tertutup memiliki keanekaragaman tinggi dengan struktur hutan yang lebih kompleks dan stabil secara ekologis.
Proses pemetaan menghadapi kendala seperti medan curam, akses sulit, dan kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga pengambilan data memakan waktu lebih lama. Sebagai tindak lanjut, pemetaan akan difokuskan pada lahan terbuka dan semak belukar, sementara hasil sementara akan disosialisasikan kepada masyarakat sebagai dasar penyusunan rencana penanaman. Penanaman berikutnya akan melibatkan jenis-jenis endemik Indonesia untuk meningkatkan keragaman pohon di KHDTK Carita sekaligus mendorong manfaat ekonomi bagi warga setempat.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi fondasi penting bagi strategi rehabilitasi hutan yang adaptif dan partisipatif, memastikan pengelolaan KHDTK Carita berkelanjutan secara ekologis sekaligus memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar.
***
Penanggung Jawab Berita :
Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan
Editor :
Ayun Windyoningrum, S.Hut., M.Sc – Analis Kebijakan Ahli Muda
Kontributor berita :
Tim Humas Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan