P2HB Tampilkan Inovasi Solusi Iklim dan Keanekaragaman Hayati pada AFoCO Meeting 2025

SHARE

Jakarta, 15 September 2025 —Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) memaparkan capaian dan best practices dari kerjasama AFoCO Project 023/2021 dalam Annual Technical Workshop (ATW) 2025 di Seoul, Korea Selatan (15/9). Presentasi yang disampaikan mengusung tema “Innovative Solutions for Climate Change and Biodiversity Landscape Strategy to Support SDGs in Indonesia.”

Proyek ini bertujuan membangun informasi dasar kondisi biofisik dan sosial-ekonomi, memfasilitasi penyusunan rencana pengelolaan hutan, mengembangkan demonstration plot peningkatan cadangan karbon, serta mentransfer teknik dan kesadaran kepada para pemangku kepentingan.

Salah satu capaian utama adalah pembangunan demonstration plot di tiga KPH dengan tipe ekosistem yang berbeda yaitu KPH Ampang Plampang, Nusa Tenggara Barat untuk ekosistem mangrove, KPH Bulusaraung, Sulawesi Selatan untuk ekosistem karst, dan KPH Minas Tahura, Riau untuk ekosistem gambut. Selain itu, proyek kerjasama ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan transfer pengetahuan, seperti Simposium Nasional tentang Standar Produk Hasil Hutan dan Infrastruktur Hijau (12 September 2024), partisipasi di COP 29 UNFCCC di Baku, Azerbaijan (November 2024), hingga penerbitan buku “Wali Tiga Negeri” yang mendokumentasikan praktik terbaik konservasi karst, mangrove, dan gambut sebagai kontribusi nyata menuju FOLU Net Sink 2030 dan pencapaian SDGs.

Dalam paparannya, Ayun Windyoningrum, Analis Kebijakan dari P2HB menekankan pentingnya pendekatan participatory dan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek teknis dan sosial-ekonomi, sekaligus tantangan perbedaan kondisi ekologi dan ekspektasi masyarakat lokal terhadap manfaat ekonomi langsung. “Kunci keberhasilan ada pada komunikasi yang jelas, perencanaan partisipatif, serta rencana aksi yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi,” ungkapnya.

Proyek ini menunjukkan bagaimana kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat menjadikan ekosistem rentan seperti karst, mangrove, dan gambut sebagai peluang sekaligus solusi dalam menghadapi perubahan iklim dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

***

 

Penanggung Jawab Berita :

Gun Gun Hidayat, Ph.D - Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan

Kontributor berita :

Ayun Windyoningrum, S.Hut., M.Sc – Analis Kebijakan Ahli Muda